Indonesia
lagi-lagi dihadapkan masalah kali ini masalah dalam dunia persepak bolaan, berita
bola terbaru datang kepada Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, sepak
bola Indonesia seperti pedang yang meruncing pada atasnya. Bahkan Kemenpora
juga mempunyai peran intervensi dalam urusan PSSI. Padahal dalam faktanya
Statuta FIFA sudah dijabarkan dengan jelas, bahwa pemerintah tidak dibolehkan
mempunyai peran di dalamnya untuk kegiatan bola di negara sendiri. Awal mula
masalah muncul ketika PSSI tidak menyetujui perintah Kemenpora melalui jalur
Badan Olahraga Profesional Indonesia yang menyetujui kompetisi sehat Liga Super
Indonesia, namun untuk saat ini QNB League sudah diikuti oleh tim sebanyak 16.
BOPI berpendapat bahwa dua klub yaitu Arema Cronus dan Persebaya Surabaya
mempunyai masalah yang berkaitan dengan administrative dan dualisme.
Namun PSSI juga masih menjalankan aturan kompetisi dalam mengikut sertakan Persebaya dan Arema. Hal tersebut menjadikan Kemenpora makin geram dan membuat keputusan untuk membekukan PSSI, surat yang dikeluarkan telah disahkan oleh Menteri Imam Nahrawi yang sudah memaparkan mengenai hukuman administrative untuk PSSI. Di sisi lain apapun keputusan yang dibutuhkan dan kegiatan yang akan dilakukan PSSI tidak bisa disahkan. Keputusan yang ada tersebut menjadikan PSSI mendapat ancaman untuk mendapat hukuman dari FIFA. Salah satu kerugian besar yang akan diterima oleh Indonesia jika disanksi FIFA merupakan larangan untuk ikut serta dalam turnamen internasional baik di tingkatan timnas atau klub.
Akhirnya seperti prediksi banyak pihak, FIFA mengeluarkan sanksi kepada Indonesia. Dalam surat keputusannya yang ditandatangani oleh Sekretaris Jendral FIFA, Jerome Valcke, Indonesia dilarang mengikuti, mengadakan, dan berpartisipasi dalam pertandingan sepakbola Internasional. Dalam sanksi yang tidak ditentukan batas waktu berlakunya, FIFA sepertinya masih berbaik hati dengan mengizinkan Indonesia ikut dalam pertandingan-pertandingan sepakbola dalam SEA Games Singapura 2015 yang saat ini baru saja berlangsung.
Sanksi FIFA ditanggapi dalam berbagai pandangan. Umumnya para pencinta sepakbola sangat menyayangkan dengan keluarnya sanksi FIFA tersebut oleh karena yang rugi adalah kita sendiri. Tanggapan yang sangat ekstrim antara lain adalah menyesalkan mengapa Menpora Imam Nahrowi tidak mencabut surat keputusan pembekuan PSSI sebelum tenggat waktu yang diberikan FIFA yaitu 29 Mei 2015 lalu.
Lebih parahnya, Jokowi menanggapi santai saja sanksi yang dikeluarkan FIFA terhadap Indonesia. Bahkan ia dengan tanpa perasaan bersalah mengeluarkan pernyataan bahwa Indonesia mau ikut pertandingan Internasional atau berprestasi dalam ruang lingkup Dunia. Lebih lanjut dikatakan bahwa sudah lama sekali Indonesia tidak punya prestasi dalam sepakbola. Oleh karena itu pembenahan terhadap PSSI akan berjalan terus.
Dengan adanya pernyataan Jokowi maka beragam reaksi bermunculan. Sampai-sampai ada yang berkomentar yang sepertinya bercanda dan menyindir pernyataan Jokowi. Pasti akan banyak komentar, respons, dan opini yangakan muncul dalam sehari dua hari ini terhadap sanksi FIFA dan kaitannya dengan pernyataan surat keputusan Menpora untuk membekukan PSSI, dan utamanya terhadap pernyataan Presiden Jokowi.
Pada awalnya ada segelintir elite olahraga kita yang meremehkan pernyataan dari FIFA dengan menganggap bahwa FIFA tidak akan sembarangan menjatuhkan sanksi kepada Indonesia mengingat potensi sepakbola yang besar di Indonesia ditambah dengan populasi Indonesia yang besar. Ini dikaitkan dengan potensi bisnis sepakbola di negara kita. Tepatnya penonton sepakbola yang begitu besar, diperkirakan FIFA tidak akan berani memberikan sanksi kepada Indonesia.
Segelintir orang tersebut yang menganggap ekspetasi jatuhnya sanksi FIFA terhadap Indonesia salah prediksi. Ini bisa dimaklumi karena landasan prediksi tersebut salah karena tidak mengerti peraturan yang berlaku dalam FIFA khususnya yang terkait dengan kewajiban anggota serta apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Tentu saja sanksi tersebut tidak ada kaitan dengan populasi suatu negara anggota FIFA. Juga aspek bisnis tidak masuk hitungan FIFA. Bahkan kalau ada yang mengangggap potensi bisnis sepakbola yang sangat besar di Indonesia, nampaknya ini kesimpulan yang tidak tepat.
Seperti halnya potensi bisnis sepakbola di Indonesia, yang harus menjadi basis adalah daya beli masyarakat kita. Walaupun secara populasi Indonesia menduduki negara nomor empat di dunia, daya belinya jauh di bawah banyak negara maju. Ini terlihat dengan harga tiket untuk menonton pertandingan sepakbola relatif rendah. Tidak heran jika gaji para pemain sepakbola profesional di Indonesia tidak besar. Sementara nilai transfer pemain juga kecil. Fakta lain bahwa klub-klub sepakbola kita kemampuan secara finansial tidak besar.
Walaupun begitu, banyak pihak memperkirakan bahwa potensi sepakbola kita akan meningkat seiring dengan meningkatnya laju pembangunan yang pada gilirannya akan meningkatkan daya beli masyarakat Indonesia. Faktor ini memang tidak dipandang sebelah mata oleh para sponsor. Bagaimanapun sepakbola sudah merupakan industri.
Pengamat sepak bola Hardimen Koto kepada VOA menyebutkan sanksi FIFA adalah sebuah hantaman untuk dunia sepak bola Indonesia.
"Sanksi FIFA adalah pukulan yang jelas menyakitkan buat sepak bola kita. Kita tau dengan sanksi ini, status keanggotaan Indonesia yang selama 63 tahun menjadi members dari FIFA itu tercerabut," ujarnya.
Herdimen menjelaskan, akibat sanksi dari FIFA ini, semua tim Indonesia, baik itu tim nasional di semua level usia termasuk klub-klub tidak boleh berinteraksi dengan pergaulan internasional, seperti piala ASIA dan kualifikasi Piala Dunia. Termasuk pula dihapuskannya semua program pengembangan dari FIFA seperti kursus pelatih dan wasit. Dan juga lanjut Herdimen, semua donasi dari FIFA yang bentuknya untuk program pengembangan, dihentikan.
Lalu, seperti apa pengaruhnya sanksi FIFA tersebut kepada para pelaku sepakbola tanah air? Berikut kami sajikan beberapa kerugian akibat hukuman FIFA.
1. Timnas Tak Bisa Berlaga
Masih beruntung Timnas kita diberikan kesempatan untuk berlaga di Singapura saat ini sedang berlangsung, apabila tidak diperbolehkan ini merupakan yang paling dekat yang bisa dirasakan. Pasalnya, Timnas Indonesia U-23 dijadwalkan berlaga di ajang SEA Games 2015 pada saat ini.
2. Klub Indonesia Tak Bisa Main di Luar
Kasus ini juga tengah membayangi Persib Bandung dan Persipura Jayapura. Kiprah mereka di ajang Piala AFC bisa terganggu jika Indonesia benar-benar menerima sanksi dari FIFA. Perjalanan kedua klub terbaik di ISL musim lalu itu sendiri kini sudah mencapai babak 16 besar, dan berpotensi melaju lebih jauh lagi mengingat mereka bertindak sebagai tuan rumah.
3. Nasib Pemain Muda Tak Jelas
Nasib kompetisi yang tak jelas kapan digelar akan merugikan seluruh lapisan pemain. Namun yang paling merasakan dampaknya adalah para pemain muda. Putra harapan Indonesia di masa depan ini akan semakin sulit untuk berkembang dengan adanya sanksi ini, apalagi mental mereka masih belum teruji secara matang. Belum lagi bagi pemain muda yang memilih untuk berkarier di luar negeri. Mereka tak akan diakui karena negara asalnya sedang tak diakui FIFA.
4. Kompetisi Tidak Diakui
Indonesia masih bisa menggelar kompetisi meski andaikata dihukum FIFA. Namun kompetisi tersebut tak akan diakui oleh badan sepakbola tertinggi dunia itu. Hal ini tentu sangat merugikan bagi para klub peserta. Mereka akan menganggap bahwa kompetisi ini bersifat amatir, atau bahkan tarkam.
5. Tim Luar Tak Bisa Bermain di Indonesia
Sanksi FIFA juga membuat tim-tim atau negara luar tak bisa memainkan laganya di Indonesia di mana Timnas akan menggelar laga Kualifikasi Piala Dunia 2018 dan Kualifikasi Piala Asia 2019.
6. Durasi Sanksi
Melihat sejarah, durasi sanksi dari FIFA bisa bermacam-macam, tergatung dari permasalahan yang dihadapi negara terkena dan bagaimana mereka kemudian merespon hukuman tersebut.
Contohnya Kamerun yang terkena sanksi pada 2013 silam karena masalah intervensi pemerintah. Setelah terkena sanksi, pihak Fecafoot (PSSI-nya Kamerun) dan pemerintah setempat membentuk tim normalisasi dan sanksi mereka pun dicabut setelah hanya 17 hari.
Dan juga akibat dari diberinya sanksi oleh FIFA terhadap PSSi ditinjau dari AFC:
Akhirnya seperti prediksi banyak pihak, FIFA mengeluarkan sanksi kepada Indonesia. Dalam surat keputusannya yang ditandatangani oleh Sekretaris Jendral FIFA, Jerome Valcke, Indonesia dilarang mengikuti, mengadakan, dan berpartisipasi dalam pertandingan sepakbola Internasional. Dalam sanksi yang tidak ditentukan batas waktu berlakunya, FIFA sepertinya masih berbaik hati dengan mengizinkan Indonesia ikut dalam pertandingan-pertandingan sepakbola dalam SEA Games Singapura 2015 yang saat ini baru saja berlangsung.
Sanksi FIFA ditanggapi dalam berbagai pandangan. Umumnya para pencinta sepakbola sangat menyayangkan dengan keluarnya sanksi FIFA tersebut oleh karena yang rugi adalah kita sendiri. Tanggapan yang sangat ekstrim antara lain adalah menyesalkan mengapa Menpora Imam Nahrowi tidak mencabut surat keputusan pembekuan PSSI sebelum tenggat waktu yang diberikan FIFA yaitu 29 Mei 2015 lalu.
Lebih parahnya, Jokowi menanggapi santai saja sanksi yang dikeluarkan FIFA terhadap Indonesia. Bahkan ia dengan tanpa perasaan bersalah mengeluarkan pernyataan bahwa Indonesia mau ikut pertandingan Internasional atau berprestasi dalam ruang lingkup Dunia. Lebih lanjut dikatakan bahwa sudah lama sekali Indonesia tidak punya prestasi dalam sepakbola. Oleh karena itu pembenahan terhadap PSSI akan berjalan terus.
Dengan adanya pernyataan Jokowi maka beragam reaksi bermunculan. Sampai-sampai ada yang berkomentar yang sepertinya bercanda dan menyindir pernyataan Jokowi. Pasti akan banyak komentar, respons, dan opini yangakan muncul dalam sehari dua hari ini terhadap sanksi FIFA dan kaitannya dengan pernyataan surat keputusan Menpora untuk membekukan PSSI, dan utamanya terhadap pernyataan Presiden Jokowi.
Pada awalnya ada segelintir elite olahraga kita yang meremehkan pernyataan dari FIFA dengan menganggap bahwa FIFA tidak akan sembarangan menjatuhkan sanksi kepada Indonesia mengingat potensi sepakbola yang besar di Indonesia ditambah dengan populasi Indonesia yang besar. Ini dikaitkan dengan potensi bisnis sepakbola di negara kita. Tepatnya penonton sepakbola yang begitu besar, diperkirakan FIFA tidak akan berani memberikan sanksi kepada Indonesia.
Segelintir orang tersebut yang menganggap ekspetasi jatuhnya sanksi FIFA terhadap Indonesia salah prediksi. Ini bisa dimaklumi karena landasan prediksi tersebut salah karena tidak mengerti peraturan yang berlaku dalam FIFA khususnya yang terkait dengan kewajiban anggota serta apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Tentu saja sanksi tersebut tidak ada kaitan dengan populasi suatu negara anggota FIFA. Juga aspek bisnis tidak masuk hitungan FIFA. Bahkan kalau ada yang mengangggap potensi bisnis sepakbola yang sangat besar di Indonesia, nampaknya ini kesimpulan yang tidak tepat.
Seperti halnya potensi bisnis sepakbola di Indonesia, yang harus menjadi basis adalah daya beli masyarakat kita. Walaupun secara populasi Indonesia menduduki negara nomor empat di dunia, daya belinya jauh di bawah banyak negara maju. Ini terlihat dengan harga tiket untuk menonton pertandingan sepakbola relatif rendah. Tidak heran jika gaji para pemain sepakbola profesional di Indonesia tidak besar. Sementara nilai transfer pemain juga kecil. Fakta lain bahwa klub-klub sepakbola kita kemampuan secara finansial tidak besar.
Walaupun begitu, banyak pihak memperkirakan bahwa potensi sepakbola kita akan meningkat seiring dengan meningkatnya laju pembangunan yang pada gilirannya akan meningkatkan daya beli masyarakat Indonesia. Faktor ini memang tidak dipandang sebelah mata oleh para sponsor. Bagaimanapun sepakbola sudah merupakan industri.
Pengamat sepak bola Hardimen Koto kepada VOA menyebutkan sanksi FIFA adalah sebuah hantaman untuk dunia sepak bola Indonesia.
"Sanksi FIFA adalah pukulan yang jelas menyakitkan buat sepak bola kita. Kita tau dengan sanksi ini, status keanggotaan Indonesia yang selama 63 tahun menjadi members dari FIFA itu tercerabut," ujarnya.
Herdimen menjelaskan, akibat sanksi dari FIFA ini, semua tim Indonesia, baik itu tim nasional di semua level usia termasuk klub-klub tidak boleh berinteraksi dengan pergaulan internasional, seperti piala ASIA dan kualifikasi Piala Dunia. Termasuk pula dihapuskannya semua program pengembangan dari FIFA seperti kursus pelatih dan wasit. Dan juga lanjut Herdimen, semua donasi dari FIFA yang bentuknya untuk program pengembangan, dihentikan.
Lalu, seperti apa pengaruhnya sanksi FIFA tersebut kepada para pelaku sepakbola tanah air? Berikut kami sajikan beberapa kerugian akibat hukuman FIFA.
1. Timnas Tak Bisa Berlaga
Masih beruntung Timnas kita diberikan kesempatan untuk berlaga di Singapura saat ini sedang berlangsung, apabila tidak diperbolehkan ini merupakan yang paling dekat yang bisa dirasakan. Pasalnya, Timnas Indonesia U-23 dijadwalkan berlaga di ajang SEA Games 2015 pada saat ini.
2. Klub Indonesia Tak Bisa Main di Luar
Kasus ini juga tengah membayangi Persib Bandung dan Persipura Jayapura. Kiprah mereka di ajang Piala AFC bisa terganggu jika Indonesia benar-benar menerima sanksi dari FIFA. Perjalanan kedua klub terbaik di ISL musim lalu itu sendiri kini sudah mencapai babak 16 besar, dan berpotensi melaju lebih jauh lagi mengingat mereka bertindak sebagai tuan rumah.
3. Nasib Pemain Muda Tak Jelas
Nasib kompetisi yang tak jelas kapan digelar akan merugikan seluruh lapisan pemain. Namun yang paling merasakan dampaknya adalah para pemain muda. Putra harapan Indonesia di masa depan ini akan semakin sulit untuk berkembang dengan adanya sanksi ini, apalagi mental mereka masih belum teruji secara matang. Belum lagi bagi pemain muda yang memilih untuk berkarier di luar negeri. Mereka tak akan diakui karena negara asalnya sedang tak diakui FIFA.
4. Kompetisi Tidak Diakui
Indonesia masih bisa menggelar kompetisi meski andaikata dihukum FIFA. Namun kompetisi tersebut tak akan diakui oleh badan sepakbola tertinggi dunia itu. Hal ini tentu sangat merugikan bagi para klub peserta. Mereka akan menganggap bahwa kompetisi ini bersifat amatir, atau bahkan tarkam.
5. Tim Luar Tak Bisa Bermain di Indonesia
Sanksi FIFA juga membuat tim-tim atau negara luar tak bisa memainkan laganya di Indonesia di mana Timnas akan menggelar laga Kualifikasi Piala Dunia 2018 dan Kualifikasi Piala Asia 2019.
6. Durasi Sanksi
Melihat sejarah, durasi sanksi dari FIFA bisa bermacam-macam, tergatung dari permasalahan yang dihadapi negara terkena dan bagaimana mereka kemudian merespon hukuman tersebut.
Contohnya Kamerun yang terkena sanksi pada 2013 silam karena masalah intervensi pemerintah. Setelah terkena sanksi, pihak Fecafoot (PSSI-nya Kamerun) dan pemerintah setempat membentuk tim normalisasi dan sanksi mereka pun dicabut setelah hanya 17 hari.
Dan juga akibat dari diberinya sanksi oleh FIFA terhadap PSSi ditinjau dari AFC:
1. Dikeluarkan dari Kualifikasi Piala
Dunia 2018 dan Piala Asia 2019
Karena
hukuman ini, tim nasional Indonesia dipastikan keluar dari babak kualifikasi
Piala Dunia 2018 dan Piala Asia 2019. Itu artinya, tim Merah Putih dipastikan
gagal memanfaatkan peluang untuk mengikuti dua turnamen bergengsi tersebut.
2. Dikeluarkan dari Ajang Piala Asia
U-16 dan U-19
Hukuman
FIFA terhadap PSSI tak hanya berimbas pada tim nasional senior. Timnas
Indonesia U-16 dan U-19 juga terkena dampak dari hukuman ini. Tim asuhan Fachry
Husaini dipastikan absen berlaga di pentas internasional.
3. Dikeluarkan dari Turnamen Regional
Wanita AFC U-14
Timnas
wanita Indonesia dicoret dari keikutsertaannya di Turnamen Regional AFC U-14.
Perubahan ini akan mempengaruhi jadwal pertandingan di grup A. Sebelumnya
turnamen ini akan dimulai pada 20 Juni 2015. Namun karena pencoretan Indonesia,
laga di grup A bakal dimulai pada 23 Juni 2015.
4. Dikeluarkan dari Babak Kualifikasi
Futsal Wanita AFC 2015
Dampak
hukuman ini juga berimbas pada timnas futsal Indonesia. Timnas wanita Indonesia
dipastikan gagal bermain di Babak Kualifikasi Futsal AFC 2015
5. Dikeluarkan dari Futsal AFC 2016
(Zona ASEAN - Turnamen Futsal AFF)
Rencana
Indonesia mengirim wakil Timnas futsal ke kejuaraan internasional juga
dipastikan gagal. AFC tidak mengizinkan skuat Garuda mengikuti Futsal AFC 2016
(Zona ASEAN - Turnamen Futsal AFF).
6. Persipura Jayapura Dikeluarkan dari
AFC Cup 2015
Kalah
tanpa bertanding, itulah yang dialami Persipura Jayapura. Mereka yang tadinya
dijadwalkan menghadapi Pahang FA di babak 16 besar AFC Cup, harus menerima
keputusan walk out (WO) karena gagal menggelar pertandingan.
7. Pengembangan Sepak Bola
Indonesia
dipastikan tidak bisa mendapatkan program pengembangan dari AFC dan FIFA.
Program itu mencakup kursus kepelatihan dan seminar berlisensi C.
Masa depan tim nasional sepak bola Indonesia dikhawatirkan makin terpuruk setelah FIFA memberikan sanksi berupa larangan berlaga di ajang internasional, kata seorang pengamat. "Peringkat sepak bola Indonesia bakal turun terus, karena kita tidak bisa mengikuti turnamen dunia yang masuk agenda FIFA dan lainnya," kata pengamat sepak bola Andi Bachtiar Yusuf kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan Menurutnya, sangat mungkin timnas Indonesia bisa berada di urutan paling bawah setelah sanksi FIFA itu turun. "Karena untuk menggelar uji coba (dengan negara lain) saja bakal susah."
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan bahwa Pemerintah harus duduk bersama Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk memperbaiki prestasi sepak bola Indonesia. Kalla menekankan bahwa kompetisi sepak bola harus terus berjalan.
"Sepak bola itu adalah olahraga permainan, bukan olahraga terukur, jadi untuk ketahui prestasi, harus bertanding," kata Kalla di Kantor Wapres Jakarta.
Pernyataan ini disampaikan Kalla ketika ditanya mengenai upaya perbaikan PSSI. Kalla yang juga mantan ketua Persatuan Sepak Bola Makassar ini menilai bahwa sepak bola bukan sekadar urusan prestasi namun memiliki nilai hiburan bagi masyarakat. Ia tak ingin klub sepak bola dalam negeri berhenti bertanding jika PSSI dibekukan.
"Nanti kalau enggak ada kompetisi dalam negeri, nanti semua orang hanya lihat MU saja nanti, atau Barca, Chelsea," sambung Kalla.
Apalagi, menurut dia, banyak pihak yang menggantungkan hidupnya dari kompetisi sepak bola. Selain pelatih dan pemain, ada juga para pedagang kecil yang mengais keuntungan dari kompetisi sepak bola Tanah Air. "Penonton, penjual kaos, penjual bakso, penjual karcis, satpam, macam-macam, terlibat ratusan ribu, jutaan orang yang terlibat termasuk petarung terlibat juga. Yang penting kan tontonan, hiburan, nanti orang lama-lama tidak kenal lagi PSSI kalau tidak ada pertandingan," tutur dia.
Kesimpulan dari saya ialah banyak sekali yang dipertaruhkan akibat sanksi FIFA terhadap persepakbolaan tanah air akibat dari ketidaktahuan dan keegoisan pemerintah dan kurangnya kordinasi satu sama lain yang sangat berdampak buruk, yang tadinya sepakbola Indonesia sudah buruk semakin buruk saja saat ini, terutama hak-hak pemain dan penonton sepakbola Indonesia. Sepakbola merupakan rajanya olahraga diDunia tidak terkecuali Indonesia juga, demam bola sudah menjadi tradisi dan betapa bangganya apabila demam ini akibat dari prestasi cemerlang persepakbolaan Indonesia. Namun apabila Indonesia terkena sanksi semakin jelek mata lembaga-lembaga yang seharusnya menjaga sepakbola agar tetap hidup justru menjatuhkan dan menutup kemungkinan untuk tetap maju, hak-hak pemain yang saat ini tidak jelas serta penonton yang nantinya sangat rindu tim kebanggaannya berlaga pada ajang Internasional, saat ini Indonesia hanya harus menunggu para pemerintah dan petinggi lainnya menyelesaikan masalahnya agar sanksi tersebut dicabut oleh FIFA, ekspetasi kita hanyalah agar dipercepat agar sepakbola diIndonesia tidak semakin buruk saja. Terima kasih.
Masa depan tim nasional sepak bola Indonesia dikhawatirkan makin terpuruk setelah FIFA memberikan sanksi berupa larangan berlaga di ajang internasional, kata seorang pengamat. "Peringkat sepak bola Indonesia bakal turun terus, karena kita tidak bisa mengikuti turnamen dunia yang masuk agenda FIFA dan lainnya," kata pengamat sepak bola Andi Bachtiar Yusuf kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan Menurutnya, sangat mungkin timnas Indonesia bisa berada di urutan paling bawah setelah sanksi FIFA itu turun. "Karena untuk menggelar uji coba (dengan negara lain) saja bakal susah."
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan bahwa Pemerintah harus duduk bersama Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk memperbaiki prestasi sepak bola Indonesia. Kalla menekankan bahwa kompetisi sepak bola harus terus berjalan.
"Sepak bola itu adalah olahraga permainan, bukan olahraga terukur, jadi untuk ketahui prestasi, harus bertanding," kata Kalla di Kantor Wapres Jakarta.
Pernyataan ini disampaikan Kalla ketika ditanya mengenai upaya perbaikan PSSI. Kalla yang juga mantan ketua Persatuan Sepak Bola Makassar ini menilai bahwa sepak bola bukan sekadar urusan prestasi namun memiliki nilai hiburan bagi masyarakat. Ia tak ingin klub sepak bola dalam negeri berhenti bertanding jika PSSI dibekukan.
"Nanti kalau enggak ada kompetisi dalam negeri, nanti semua orang hanya lihat MU saja nanti, atau Barca, Chelsea," sambung Kalla.
Apalagi, menurut dia, banyak pihak yang menggantungkan hidupnya dari kompetisi sepak bola. Selain pelatih dan pemain, ada juga para pedagang kecil yang mengais keuntungan dari kompetisi sepak bola Tanah Air. "Penonton, penjual kaos, penjual bakso, penjual karcis, satpam, macam-macam, terlibat ratusan ribu, jutaan orang yang terlibat termasuk petarung terlibat juga. Yang penting kan tontonan, hiburan, nanti orang lama-lama tidak kenal lagi PSSI kalau tidak ada pertandingan," tutur dia.
Kesimpulan dari saya ialah banyak sekali yang dipertaruhkan akibat sanksi FIFA terhadap persepakbolaan tanah air akibat dari ketidaktahuan dan keegoisan pemerintah dan kurangnya kordinasi satu sama lain yang sangat berdampak buruk, yang tadinya sepakbola Indonesia sudah buruk semakin buruk saja saat ini, terutama hak-hak pemain dan penonton sepakbola Indonesia. Sepakbola merupakan rajanya olahraga diDunia tidak terkecuali Indonesia juga, demam bola sudah menjadi tradisi dan betapa bangganya apabila demam ini akibat dari prestasi cemerlang persepakbolaan Indonesia. Namun apabila Indonesia terkena sanksi semakin jelek mata lembaga-lembaga yang seharusnya menjaga sepakbola agar tetap hidup justru menjatuhkan dan menutup kemungkinan untuk tetap maju, hak-hak pemain yang saat ini tidak jelas serta penonton yang nantinya sangat rindu tim kebanggaannya berlaga pada ajang Internasional, saat ini Indonesia hanya harus menunggu para pemerintah dan petinggi lainnya menyelesaikan masalahnya agar sanksi tersebut dicabut oleh FIFA, ekspetasi kita hanyalah agar dipercepat agar sepakbola diIndonesia tidak semakin buruk saja. Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar